Budaya Politik

  1. Perbandingan antara budaya politik di kost dengan di rumah

Jawab  :

 

Beberapa tipe budaya politik, yaitu :

  1. Budaya parokial, adalah : budaya politik yang terbatas pada wilayah tertentu bahkan masyarakat belum memiliki kesadaran berpolitik, sekalipun ada menyerahkannya kepada pemimpin lokal seperti suku.
  2. Budaya kaula, adalah : budaya politik dimana masyarakat sudah memiliki kesadaran terhadap sistem politik namun tidak berdaya dan tidak mampu berpartisipasi sehingga hanya melihat outputnya saja tanpa bisa memberikan input.
  3. Budaya partisipan, adalah : budaya politik dimana masyarakat aktif dalam kehidupan politik.
  4. Budaya politik campuran, adalah : disetiap bangsa, budaya politik itu tidak terpaku kepada satu budaya. Sekalipun sekarang banyak negara sudah maju, namun ternyata tidak semuanya berbudaya partisipan, masih ada yang kaula dan parokial.

Budaya politik campuran terbagi menjadi 3 bagian, yaitu :

  • Budaya parokial-kaula
  • Budaya parokial-partisipan
  • Budaya kaula-partisipan

 

Sejauh yang saya ketahui, budaya politik di rumah dengan di kost berbeda. Budaya politik di rumah cenderung menerapkan budaya parokial-kaula. Sebagian orang ada yang benar-benar tidak memiliki kesadaran untuk berpolitik. Mereka biasanya dalam kegiatan politik, misalnya pemilu hanya mengikuti pemimpin suatu kelompok dalam masyarakat atau memilih sesuai dengan hasil keputusan bersama/voting. Ada yang memilih karena mendapat sogokan dari para partai yang mencalonkan diri. Bahkan ada orang yang tidak mau mengikuti pemilu karena mereka beranggapan bahwa dari pemilu mereka tidak akan mendapatkan apa-apa dan pemilu tersebut dianggap tidak penting. Sekalipun ada yang sudah mengikuti pemilu dengan baik, tetapi mereka hanya mengikuti sebatas itu saja tidak ingin mengikuti kegiatan politik lebih jauh lagi. Mereka hanya menerima kebijakan yang nantinya diambil pemerintah saja tanpa ikut berpartisipasi/ campur tangan. Budaya politik yang ada dalam masyarakat seperti itu tidak akan efektif karena kedemokratisan dalam suatu negara pasti akan diragukan. Dan cita-cita/tujuan suatu negara yaitu untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera tidak akan tercapai.

Berbeda dengan budaya politik yang ada di kost, untuk mencapai negara yang demokratis akan lebih efektif karena mereka cenderung menerapkan budaya kaula-partisipan. Walaupun sebagian masih ada yang sungkan untuk berpolitik, tetapi mereka mengikuti pemilu dengan baik bahkan kebanyakan orang ikut aktif dalam partisipasi politik. Mereka berlomba-lomba untuk ikut andil dalam kegiatan berpolitik. Ada yang ikut berpartisipasi karena sadar akan kebaikan bersama, tetapi juga ada yang ikut berpartisipasi hanya untuk memperoleh kekuasan demi terpenuhinya kepentingan pribadi. Itu semua dipengaruhi oleh budaya masyarakat perkotaan yang lebih bersifat individualistik dan materialistik.  Oleh karena itu, masyarakat perkotaan cenderung berlomba-lomba untuk berpolitik. Karena dianggap berpolitik merupakan alat yang lebih elastis untuk memenuhi kebutuhan hidup dan semua orang bisa dengan mudah berkecimpung didalamnya. Walaupun demikian, kegiatan politik yang menerapkan budaya politik seperti itu setidaknya tidak sangat otoriter karena suara rakyat masih dipertimbangkan. Dan untuk mencapai negara yang demokratis demi terwujudnya cita-cita/ tujuan negara akan lebih efektif dan berjalan lancar dibandingkan dengan tipe budaya politik yang diterapkan dalam masyarakat perdesaan yang lebih cenderung menerapkan budaya parokial-kaula.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: