Moral Agama (Menurut Para Ahli Etika)

 MORAL AGAMA MENURUT PARA AHLI ETIKA (DALAM FILSAFAT)

  1. GEORGE EDWARD MOORE : ARTI KATA BAIK

Apa arti baik? Apa yang mau kita katakan apabila kita mengatakan bahwa “ memaafkan orang yang mohon ampun adalah perbuatan baik?” Kata baik adalah kata kunci moralitas. Misalnya bahwa “baik” sama dengan nikmat (kaum hedonis) atau dengan (apa yang diinginkan orang) misalnya Hume atau dengan kehendak Allah. Tetapi kata baik sendiri sebenarnya berarti apa? Itulah pertanyaan kunci yang dibahas oleh filosof inggris George Edward Moore dalam Principia Ethica, bukunya yang paling penting. Menurut Moore, kalau pertanyaan yang paling mendasar itu tidak dijawab, bagaiman akita dapat membuktikan bahwa sesuatu itu baik. Mereka “mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tanpa terlebih dahulu menemukan apa persis pertanyaan yang dijawab itu”.

Anggapan inti Moore sangat sederhana. Kata “baik” tidak dapat didefinisikan. Menurut  Moore mirip kata “baik”dengan “kuning”. Ada ribuan macam benda yang berwarna kuning, tetapi kalaupun kita menganalisa benda kuning yang ada, kita tetap tidak mengetahui apa itu “kuning”, kecuali kita sudah mengetahuinya sebelumnya.

  1. MAX SCHELER : TATANAN NILAI

Scheler menunjukan bahwa nilai-nilai itu material dan apriori. “Material” disini bukan dalam arti “ada kaitannya dengan materi melainkan sebagai lawan kata “formal” sebagai “berisi”. Scheler sangat menekankan bahwa nilai-nilai bersifat apriori. Maksudnya, apa arti sebuah nilai, misalnya enak, jujur atau kudus, kita ketahui bukan karena satu pengalaman secara apesteriori, melainkan kita ketahui begitu kita sadar akan nilai-nilai itu. bagaimana kita menangkap nilai? Menurut Scheler bukan dengan pikiran melainkan denagan perasaan intensional. Perasaan disini tidak dibatasi fisik atu emosi, melainkan, mirip dengan paham rasa dengan budaya Jawa, sebagai keterbukan hati dan budi dalam semua dimensi. Menurut Scheler ada empat gugus nilai yang mandiri dan berbeda satu sama lain. Pertama, nilai-nilai sekitar. Kedua, nilai-nilai vital. Ketiga, nilai-nilai rohani. Keempat, nilai –nilai kudus dan profan yang dihayati manusia dengan pengalaman religius.

  1. ALFRED JULES AYER : TEORI ETIKA EMOTIF MURNI

Teks Ayer dapat dibagi menjadi lima bagian. Pertama, menentukan tugas etika. Kedua, ia menolak dua etika yang bersaing . ketiga, memaparkan emotifisme teorinya sendiri. Keempat, ia membedakan emotifisme itu dari pandangan-pandangan yang mirip. Kelima, ia menanggapi sangkalan paling utama terhadap emotifisme yaitu bahwa orang sering memberikan penilaian moral, padahal menurut emotifisme tidak ada penilaian moral. Yang pertama yang diselidiki Ayer adalah pendapat naturalisme. Bahwa istilah-istilah moral dapat dikembalikan ke istialah-istilah bukan moral. Misalnya “baik” sama dengan “enak”  (utilitarisme) atau “yang disetujui “  (subjektivisme).

Kesamaan teori yang dibantah Ayer, “naturalisme” dan “intusionisme”, adalah bahwa menurut mereka penilaian moral merupakan sebuah pernyataan sungguh-sungguh karena itu, dapat betul atau salah (setiap pernyataan betul atau salah). Inti teori Ayer adalah penolakan pengandaian itu. Menurut Ayer penilaian moral hanya pura-pura sama dengan pernyataan yang sebenarnya tidak menyatakan sesuatu apapun.

  1. JEAN-PAUL SARTRE : OTENTISITAS

Dua teks berikut menyajikan pandangan Sartre tentang dua dimensi yang sentral bagi moral moralitas, yaitu pandangan tentang orang lain dan pandangan tentang tanggungjawab. Dua masalah ini sentral karena, pertama, sebagian besar moralitas menyangkut sikap yang seharusnya  kita ambil terhadap orang lain karena kedua sikap itu pada hakikatnya berwujud tanggungjawab.

Menurut sartre, setiap orang sepenuhnya bertanggungjawab atas dirinya sendiri, dalam tanggungjawab itu dia juga bertanggungjawab atas umat manusia, dan tidak ada nilai-nilai yang dapat menjadi acuan dalam pertanggungjawaban itu denagn memilih apa yang mau kita lakukan, kita sendiri menciptakan nilai-nilai tersebut.

  1. EMMANUEL LEVINES : PANGGILAN ORANG LAIN

Etika Levines amat berbeda dari  etika-etika kebanyakan filosif lain dalam buku ini ( namun ada kesamaan dengan pemikiran Iris Murdoch). Iya tidak mempertanyaakan prinsip-prinsip moral, cara mengatur kelakuan manusia atau bahasa etika. Etikanya lebih tepat disebut etika fundamental : ia mencoba menunjukkan bahwa manusia dalan segala penghayatan dan sikap-sikapnya didorong oleh sebuah implus etis, oleh tanggungjawab terhadap sesama.

Ada dua hal yang perlu diperhatikan agar tidak salah paham. Pertama, tanggungjawab yang dimaksud levinas sudah mendahului, atau mendasari, sikap yang dalam bahasa sehari-hari kita sebut “tanggungjawab”( misalnya tanggungjawab orangtua terhadap anak mereka). Kedua, levinas tidak bicara secara normatif. Ia tidak mengatakan bahwa kita harus bertanggungjawab terhadap sesama. Melainkan ia bicara secara fenomenologis. Artinya ia menunjuk pada sebuah realitas dalam kesadaran kita.

  1. JOSEPH FLETCHER : ETIKA SITUASI

Etika situasi menolak adanya norma-norma moral umum karena kewajiban moral menurut mereka selalu tergantung dari situasi konkret. Jadi apa yang wajib saya lakukan dalam situasi tertentu, menurut etika situasi tidak pernah dapat begitu saja diketahui dari sebuah norma atau hukum moral. Seseuatu dalam situasi yang sama baik dan tepat, dalam situasi lain bisa jelek dan salah.

Nah, etika situasi sangat menegaskan bahwa setiap situasi itu unik dan tak terulang. Kalau dua orang masuk kamar yang sama, hal itu tidak berarti bahwa mereka masuk dalam situasi yang sama. Yang satu masuk, misalnya sebagai orang yang berutang, yang satunya sebagai pebagih hutang. Situasi mereka itu jelas sangat berbeda. Begitupula seseoarang masuk dua kali kedalam kamar yang sama tidak berarti dia dua kali mengalami situasi yang sama. Bisa saja sekali ia gembira, sekali lagi dia sedih.

Dalam teks pertama Fletcher, menegaskan bahwa etika situasi hanya mengakui satu norma moral, yaitu cintakasih. Tindakan apapun adalah benar apabila merupakan ungkapan cintakasih, dan tindakan apapun secara moral salah apabila bertentangan dengan cintakasih.

  1. BYRRHUS FREDERIC SKINNER : PENGELOLAAN KELAKUAN

Yang perlu menurut skinner bukan etika, melainkan sebuah teknologi kelakukan. Hanya dengan teknologi kelakuan ilmiah manusia dapat mengatur kelakuan nya sedemikian rupa hingga terhindar dari malapelataka yang mengancam.

Menurut skinner kerangka acuan “rangsangan jawaban” masih terlalu sederhana namun ada yang betul dan berlaku juga bagi manusia : kelakuan manusia, jauh daripada acak atau sewenang-wenang, sebenarnya dapat diramalkan asal kita mengetahui semua fakta dalam lingkuangannya. Kita dapat misalnya meramalkan kapan seorang guru besar filsafat akan bangun, apakah dia akan sedikit latihan gymnastik, bagaimana dia sarapan, kapan, dengan sarana mana, dan melalui jalan apa ia ke universiatasnya, apa yang akan dilakuakan apbila sampai kekantornya, kapan ia akan mengajar dan tentang apa, kapan ia pulang, bagaimana ia mengisi waktu sore hari, apa yang akan dilakukannya dihari libur. Mengapa kelakuan dapat diramalkan? Karena ternyata seorang profesor itu, dan setiap orang, bertindak sesuai dengan kondisi-kondis kehidupannya. Apabila kita mengetahui semua kondisi kehidupan profesor itu, kita juga dapat meramalkan apa yang akan dilakukannya dalam segala situasi.

  1. HANS JONAS : PRINSIP TANGGUNGJAWAB

Kata pengantar 

Jonas menguraikan program bukunya. Titik tolak adalah kenyataan bahwa seluruh etika tradisional tidak memadai terhadap ancaman yang ditimbulkan oleh teknologi mederen.

Etika baru

Jonas menguraikan bagaimana teknologi membuka kemungkinan sama sekali baru bagi tindakan manusia. Karna itu etika tradisional tidak lagi memadai.

Alam mulai dilukai

Jonas kembali menguraikan mengapa etika lam tidak memadai. Dulu tanggungjawab manusia hanya mengenai orang yang dekat, dalam cakupan waktu yang sama. Tetapi sekarang kita tau bahwa penertapan teknik akan merusak syarat-syarat kehidupan manusia jauh sesudah kita.

Hak moral alam

Dalam situasi ini pendekatan antroposentris kepada alam yang khas bagi etika tradisional ( alam dilihat dari segi mamfaatnya bagi manusia) kemungkinan tidak mencukupi lagi.

Manusia wajib tetap ada

Inilah pasal inti buku jonas. Situasi umat manusia, yaitu situasi dimana manusia, karna hasil pekerjaannya sendiri.

Imperatif lama dan baru

Teks ini memuat tanggungjawab baru yang dituntut jonas, tanggungjawab terhadap eksistensi umat manusia dimasa mendatang.

Heoristika ketakutan, kewajiban pertama etika masa depan

Masalah yang dihadapi etika tanggungjawab atas masa depan umat manusia adalah bahwa kita tidak mempunyai pengalaman tentang akibat-akibat perbuatan kita sekarang dimasa depan.

Mendahulukan ramalan buruk terhadap ramalan baik

Jonas menegaskan bahwa secara etis kita tidak berhak untuk mempertaruhkan eksistensi umat manusia.

Penolakan terhadap ketiadaan

Teks terakhir jonas menunjuk pada dasar tanggunjawab manusia atas keutuhan alam dimasa depan : kehidupan alami adalah peng-“iya” -an terhadap kehidupan dan penolakan terhadap ketetiadaan. Jadi kehidupan merupakan nilai pada dirinya sendiri.

          

  1. IRIS MURDOCH : PANDANGAN PENUH KASIH

Menurut Murdoch, manusia mewujudkan nilai moral bukan dengan memperhatikan realitas, melainkan dengan bertekad untuk bertindak secara moral.

Meurut Murdoch, pendasaran nilai-nilai moral dalam kehendak subjektif nir-realitas tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi apabila orang berusaha untuk mengambil sikap yang bermoral. Tantangan sebenarnya moralitas adalah bagaimana “sebuah enersi yang secara alami berpusat pada dirinya sendiri dapat diarahkan kembali sedemikian rupa hingga pada saat pilihan kita pasti bertindak dengan benar.

Apakah “yang baik” itu sama dengan Tuhan? Murdoch tegas-tegas menolak identifikasi itu. Malah menurut Murdoch apa yang sebenarnya dimaksud dengan “Allah” adalah idea “yang baik”.

Bagaimana kita dapat membuat kita menjadi lebih baik? Teks pertama Murdoch menggariskan paham yang dilawannya: anggapan bahwa kehendak adalah sumber nilai. Teks kedua menyagkal bahwa konsepsi Kant dapat menjawab pertanyaan diatas:  bukan dengan berfokus pada kehendak bebas, melainkan dengan melepaskan diri manusia menjadi lebih baik. teks ketiga memuat paham Murdoch sendiri. Ia mulai dengan penegasan bahwa moraliatas dan keutamaan berkaitan dengan kemampuan untuk melihat duani seadanya, dan bukan sebagaimna dibayangkan dalam fantasi yang senantiasa mau melindungi kepentingan ego kita.

Referensi : Magnis-Suseno, F. 2006. Etika abad ke-20. Yogyakarta: Kanisius.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: