Sosiologi Antroplogi Pendidikan (Kultur Sekolah)

PENDAHULUAN

 

  1. A.           Latar Belakang

KUALITAS pendidikan sebagai salah satu pilar pengembangan sumber daya manusia (SDM), bermakna strategis bagi pembangunan nasional. Artinya, masa depan bangsa sangat bergantung kepada kualitas pendidikan masa kini, dan pendidikan berkualitas akan muncul jika pendidikan di level sekolah juga berkualitas.

Secara umum pendidikan mempunyai dua tugas besar. Pertama menyiapkan generasi yang punya kemampuan adaptasi terhadap ekspektasi lingkungan. Kedua, menyiapkan agar mereka mampu mengatasi masalah-masalah yang ditemukan dengan cara-cara baru. Melalui yang pertama siswa belajar untuk memahami kondisi dan pola yang ada di sekitar mereka. Sedangkan yang kedua mendorong siswa untuk berinovasi. Dua fungsi tersebut harus dioperasionalkan secara seimbang. Pengembangan pendidikan melalui model entrepreneur menjadi alternatif yang sesuai dengan dua fungsi pendidikan tersebut karena pendidikan entrepreneur sangat menekankan pada pembentukan perilaku mencipta.

Ada sebuah realitas lain yang sedang dihadapi oleh bangsa ini yaitu masalah pengangguran dan ketenagakerjaan. Selama ini pendidikan telah berhasil membuat mindset generasi pencari kerja. Hampir semua lulusan sibuk mencari kerja sedangkan lapangan kerja sangat terbatas. Kalau pendidikan entrepreneur dapat mendorong generasi mandiri di bidang ekonomi, hal tersebut akan menjawab salah satu persolan besar bangsa ini.

Karena selama ini kita banyak diekspos dengan entrepreneur di bidang bisnis, konotasi entrepreneur selalu hanya berkaitan dengan bisnis. Sebaiknya kita memahami entrepreneur sebagai sebuah “spirit atau mindset” yang didukung dengan kemampuan-kemampuan tertentu dibidangnya. Misal mindset untuk berinovasi dibidang IT sehingga memerlukan ketrampilan yang mendukung untuk berinovasi dibindang tersebut, sehingga hasil inovasinya diterima atau dihargai oleh orang lain. Orang seperti ini sekarang disebut menjadi technopreneur. Kalau spirit dan mindset dikontekskan di bidang sosial, menjadi social entrepreneur. Kalau di pemerintahan, menjadi government entrepreneur. Singkatnya kita dapat mengembangkan sistem pendidikan entrepreneur tanpa harus membatasi peluang masa depan peserta didik. Melalui sekolah, peserta didikdapat  mengembangkan nilai-nilai, mindset dan ketrampilan dasar yang berhubungan dengan entrepreneur.

Lembaga pendidikan dapat memerankan peran penting dalam menumbuhkan jiwa wirausaha (entrepreneurship) bagi anak didiknya. Melalui kegiatan pengembangan wawasan hingga terjun langsung dalam praktek kegiatan usaha di sekolahnya maka kesempatan belajar (langsung) dapat diberikan bagi pemuda usia produktif khusunya para peserta didik. Dengan demikian, peserta didik memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan yang ditopang oleh sikap mental kreatif, inovatif, profesional, bertanggung jawab, serta berani menanggung resiko dalam mengelola potensi diri dan lingkungannya sebagai bekal untuk peningkatan kualitas hidupnya.

 

  1. B.            Rumusan Masalah
    1. Apa yang dimaksud kultur sekolah?
    2. Apa yang dimaksud dengan entrepreneurship?
    3. Bagaimana cara membangun kultur sekolah agar peserta didik memiliki jiwa entrepreneurship?

 

  1. C.           Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai dalam penyusunana makalah ini yaitu:

  1. Mengetahui pengertian kultur sekolah
  2. Mengetahui dan memahami entrepreneurship
  3. Mengetahui bagaimana cara membangun kultur sekolah agar peserta didik memiliki jiwa entrepreneurship

PEMBAHASAN

 

  1. A.           Pengertian Kultur Sekolah

Sekolah sebagai suatu sistem memiliki tiga aspek pokok yang sangat berkaitan erat dengan mutu sekolah, yakni: proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta kultur sekolah. Program aksi untuk peningkatan mutu sekolah secara konvensional senantiasa menekankan pada aspek pertama, yakni meningkatkan mutu proses belajar mengajar, sedikit menyentuh aspek kepemimpinan dan manajemen sekolah, dan sama sekali tidak pernah menyentuh aspek kultur sekolah. Sudah barang tentu pilihan tersebut tidak terlalu salah, karena aspek itulah yang paling dekat dengan prestasi siswa. Namun, sejauh ini bukti-bukti telah menunjukkan, sebagaimana dikemukakan oleh Hanushek di atas, bahwa sasaran peningkatan kualitas pada aspek PBM saja tidak cukup. Dengan kata lain perlu dikaji untuk melakukan pendekatan in-konvensional yakni, meningkatkan mutu dengan sasaran mengembangkan kultur sekolah.

Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam ujud fisik maupun abstrak. Kultur ini juga dapat dilihat sebagai suatu perilaku, nilai-nilai, sikap hidup, dan cara hidup untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan, dan sekaligus cara untuk memandang persoalan dan memecahkannya. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh satu generasi kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang yang didesain untuk memperlancar proses transmisi kultural antar generasi tersebut.

Dalam dunia pendidikan, semula kultur suatu bangsa (bukan kultur sekolah) yang diduga sebagai faktor yang paling menentukan kualitas sekolah. Tetapi berbagai penelitian menemukan bahwa pengaruh kultur bangsa terhadap prestasi pendidikan tidak sebesar yang diduga selama ini. Bukti terakhir, hasil TIMSS (The Third international Math and Science Study) menunjukkan bahwa siswa dari Jepang, dan Belgia sama-sama menempati pada rangking atas untuk mata pelajaran matematik, padahal kultur negara-negara tersebut berbeda. Oleh karena itu, para peneliti pendidikan lebih memfokuskan pada kultur sekolah, bukannya kultur masyarakat secara umum, sebagai salah satu faktor penentu kualitas sekolah. Tesis ini sesuai dengan temuan-temuan mutakhir penelitian di bidang pendidikan yang menekankan bahwa “faktor penentu kualitas pendidikan tidak hanya dalam ujud fisik, seperti keberadaan guru yang berkualitas, kelengkapan peralatan laboratorium dan buku perpustakaan, tetapi juga dalam ujud non-fisik, yakni berupa kultur sekolah”.

Konsep kultur di dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja di dunia industri, yakni merupakan situasi yang akan memberikan landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu proses pembelajaran secara efisien dan efektif. Salah satu ilmuwan yang memberikan sumbangan penting dalam hal ini adalah Antropolog Clifford Geertz yang mendefinisikan kultur sebagai suatu pola pemahaman terhadap fenomena sosial, yang terekspresikan secara eksplisit maupun implisit. Berdasarkan pengertian kultur menurut Clifford Geertz tersebut di atas, kultur sekolah dapat dideskripsikan sebagai pola nilai-nilai, norma-norma, sikap, ritual, mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk dalam perjalanan panjang sekolah. Kultur sekolah tersebut sekarang ini dipegang bersama baik oleh kepala sekolah, guru, staf administrasi maupun siswa, sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah.

Pengaruh kultur sekolah atas prestasi siswa di Amerika Serikat telah dibuktikan lewat penelitian empiris. Kultur yang “sehat” memiliki korelasi yang tinggi dengan a) prestasi dan motivasi siswa untuk berprestasi, b) sikap dan motivsi kerja guru, dan, c) produktivitas dan kepuasan kerja guru. Namun demikian, analisis kultur sekolah harus dilihat sebagai bagian suatu kesatuan sekolah yang utuh. Artinya, sesuatu yang ada pada suatu kultur sekolah hanya dapat dilihat dan dijelaskan dalam kaitan dengan aspek yang lain, seperti, a) rangsangan untuk berprestasi, b) penghargaan yang tinggi terhadap prestasi, c) komunitas sekolah yang tertib, d) pemahaman tujuan sekolah, e) ideologi organisasi yang kuat, f) partisipasi orang tua siswa, g) kepemimpinan kepala sekolah, dan, h) hubungan akrab di antara guru. Dengan kata lain, dampak kultur sekolah terhadap prestasi siswa meskipun sangat kuat tetapi tidaklah bersifat langsung, melainkan lewat berbagai variabel, antara lain seperti semangat kerja keras dan kemauan untuk berprestasi.

Di Indonesia belum banyak diungkap penelitian yang menyangkut kultur sekolah dalam kaitannya dengan prestasi siswa. Tetapi mengingat bahwa sekolah sebagai suatu sistem di manapun berada adalah relatif sama, maka hasil penelitian di Amerika Serikat tersebut perlu mendapatkan perhatian, paling tidak dapat dijadikan jawaban hipotetis bagi persoalan pendidikan kita.

  1. B.            Pengertian Entrepreneurship

Entrepreneur berasal dari bahasa Perancis yang berarti kontraktor. Asal katanya ialah entreprenant yang berarti giat, mau berusaha, berani, penuh petualangan. Dan entreprendre yang artinya undertake. Istilah entrepreneur mulai dipergunakan dalam bahasa Inggris sejak tahun 1878 dan dipahami sebagai a contractor acting as intermediary between capital and labour. Di Indonesia sendiri, entrepreneur diterjemahkan sebagai enterprenir, pengusaha dan usahawan. Di lingkungan pemerintahan, digunakan istilah wirausaha.

Entrepreneurship atau kewirausahaan memiliki pengertian yang luas, kewirausahaan dipandang sebagai fungsi yang mencakup eksploitasi peluang-peluang yang muncul di pasar. Eksploitasi tersebut sebagian besar berhubungan dengan pengarahan dan/atau kombinasi input yang produktif. Seorang wirausahawan selalu diharuskan menghadapi resiko atau peluang yang muncul, serta sering dikaitkan dengan tindakan yang inovatif. Seorang entrepreneur atau wirausaha adalah seorang yang berusaha dengan kegigihan dan keberaniannya sehingga usahanya mengalami pertumbuhan. Seorang entrepreneur adalah seorang yang “moving forward”, maju terus ke depan sehingga usahanya tumbuh dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, konsep entrepreneurship dikenal luas mulai business entrepreneur, creative entrepreneur, technopreneur sampai social entrepreneur.

Karakteristik seorang entrepreneur adalah:

  1. Tidak mudah menyerah. Adanya hambatan dan masalah justru membuat mereka merasa lebih tertantang untuk menguasainya.
  2. Berani mencoba sesuatu yang baru, melakukan revolusi perubahan yang dapat membuka sumber pasok bagi suatu produk dan jasa.
  3. Mampu melihat peluang bisnis yang tidak dilihat atau tidak diperhitungkan oleh orang lain, serta memiliki visi untuk menciptakan sesuatu yang baru
  4. Dapat menjadi inovator, dengan mengubah keadaan yang tidak/kurang menyenangkan menjadi keadaan seperti yang diinginkan
  5. Berani mengambil risiko. Baik risiko yang bersifat finansial (rugi) maupun mental (gagal)

Menurut Ciputra, “Semangat belajar seorang entrepreneur adalah semangat yang tidak berhenti sekedar belajar, tetapi harus mempunyai visi yang jauh kedepan disertai tindakan yang konkret. Ia harus mempunyai antusiasme yang tidak terbatas akan ide-idenya yang mungkin saja tidak dimengerti orang lain.”

  1. C.    Membangun Kultur Sekolah agar Peserta Didik Memiliki Jiwa Entrepreneurship

     Nilai, moral, sikap dan perilaku siswa tumbuh berkembang selama waktu di sekolah, dan perkembangan mereka tidak dapat dihindarkan yang dipengaruhi oleh struktur dan kultur sekolah, serta oleh interaksi mereka dengan aspek-aspek dan komponen yang ada di sekolah, seperti kepala sekolah, guru, materi pelajaran dan antar siswa sendiri. Aturan sekolah yang ketat berlebihan dan ritual sekolah yang membosankan tidak jarang menimbulkan konflik baik antar siswa maupun antara sekolah dan siswa. Sebab aturan dan ritual sekolah tersebut tidak selamanya dapat diterima oleh siswa. Aturan dan ritual yang oleh siswa diyakini tidak mendatangkan kebaikan bagi mereka, tetapi tetap dipaksakan akan menjadikan sekolah tidak memberikan tempat bagi siswa untuk menjadi dirinya.

Di Amerika Serikat pernah dilakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya kultur sekolah ini. Ann Bradley dalam ‘Hardly Working’ mengemukakan hasil penelitian tersebut. Penelitian yang mencakup 1.000 siswa di New York City menunjukkan bahwa para siswa tidak bekerja keras dan mereka menyatakan kalau dia mau dia akan dapat mencapai nilai yang lebih baik; mereka tidak menghendaki ikut tes karena hanya akan membikin mereka harus belajar lebih banyak. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa siswa tidak khawatir dengan nilai rapor yang jelek, dan hanya beberapa siswa yang selalu mengerjakan PR. Sekitar 60% menyatakan mereka malas belajar dikarenakan guru yang tidak menarik dan tidak antusias dalam mengajar, serta tidak menguasai materi.

Di samping itu sebagian besar responden menyatakan bahwa sekolah tidak disiplin dalam melaksanakan proses belajar mengajar, sekitar 80% mau belajar keras kalau semua proses belajar di sekolah berjalan secara tepat sebagaimana jadwal yang telah ditentukan. Sebagian siswa yang lain mengeluh karena guru sering melecehkan mereka dan tidak memperlakukan mereka sebagai anak yang dewasa melainkan memperlakukan mereka sebagai anak kecil. Oleh karena itu sebagai balasan mereka juga tidak menghargai guru. Temuan yang penting lagi adalah ternyata para siswa yakin dengan belajar sebagaimana sekarang ini saja mereka akan lulus mendapatkan diploma dan diploma merupakan sesuatu yang penting, tetapi tidak diperlakukan sebagai simbol ilmu yang telah dikuasai.

Berdasarkan penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa peserta didik memiliki pola pikir/mindset yang sempit. Kemungkinan seperti ini, bisa disebabkan oleh kultur sekolah yang tidak baik. Maka dari itu, membangun kultur sekolah yang lebih baik dengan menciptakan terobosan-terobosan baru sangat penting agar siswa mempunyai pola pikir/mindset yang lebih maju. Karena pembelajaran diadakan tidak hanya untuk mendapat gelar saja, tetapi lebih dari itu agar peserta didik nantinya setelah mengikuti pembelajaran lebih bisa mandiri, memiliki pola pikir yang lebih maju untuk mencapai kesuksesan.

Karena praktek pendidikan kita memerlukan terobosan-terobosan baru agar terjadi perkembangan inovasi dalam praktek penyelenggaraan sekolah atau pembelajaran, maka dari itu pendidikan entrepreneur dapat dijadikan salah satu solusi tepat untuk membangun kultur sekolah yang lebih baik lagi. Inovasi yang tidak sekedar di level metodologi atau pendekatan mengajar. Melainkan dari arah mendidik, model kurikulum, sampai strategi mengelola sekolah.

Arah yang sangat mungkin dirintis adalah membuat sebuah sistem penyelenggaraan sekolah dan pembelajaran yang menyiapkan siswa ke arah kemandirian untuk berkreasi dan berinovasi sehingga sswa secara bertahap membangun cara berpikir untuk hidup secara mandiri atau mempunyai kesadaran tentang self employment. Isu ini penting agar bangsa ini mempunyai generasi baru yang punya mindset untuk berkreasi dan berinovasinya, (Garder,2007). Bahkan tidak cukup kalau hanya sekedar berkreasi. Kreasi yang berdasarkan kesempatan yang diperoleh dari proses eksplorasi. Hasil kreatifitas harus dikomunikasikan dan dipromosikan agar dihargai oleh orang lain.

Pendidikan kita selama ini mengarahkan siswa “berhenti” di proses memahami. Kalau sudah paham dengan fakta dan konsep yang diajarkan, dipandang cukup. Untuk melihat pemahaman yang dikuasai, siswa dites atau dengan isitilah “ulangan”. Walaupun proses memahami dapat dinyatakan melalui proses belajar siswa secara aktif melalui aktifitas-aktifitas yang menyenangkan.

Belajar untuk era sekarang tidak cukup kalau berhenti dalam tahapan memahami. Tahapan harus dilanjutkan ke proses menghasilkan. Siswa harus dilatih untuk memfungsikan pengetahuan dan skills yang telah dimiliki untuk dapat menghasilkan ciptaan yang bernilai.

Sekarang, banyak orang bingung ketika terjadi perubahan. Bahkan dilevel sekolahpun terjadi banyak kebingungan ketika sebuah sistem kurikulum berubah. Hal ini disebabkan karena komunitas sekolah sudah terjebak sikap pasif dan konsumtif, mereka hanya sekedar menerima dan menjalankan sistem. Ketika dituntut untuk mengembangkan dan menghasilkan kurikulum sekolah sendiri dan berinovasi dengan standar kurikulum yang ada mereka menjadi bingung. Maka dari itu, kita harus mempunyai generasi yang terbiasa menghasilkan hal-hal baru, mencari kemungkinan-kemungkinan pengembangan. Generasi yang mandiri untuk berkreasi. Sebuah generasi yang mempunyai spirit, mindset dan ketrampilan untuk membuat terobosan-terobosan. Pendidikan diarahkan untuk mendorong lahirnya generasi yang tidak sekedar mengulangi apa yang telah dikerjakan oleh generasi sebelumnya. Generasi yang mampu menghasilkan ide-ide dan inovasi baru yang dapat diterima oleh masyarakat.

Sekolah mempunyai potensi untuk mencetak generasi seperti itu lewat proses pembelajaran. Kalau kita dapat mengembangkan sistem kurikulum sekolah dan pembelajaran yang membuat siswa berkreasi, genereasi muda kita akan mempunyai kesempatan 12 tahun untuk belajar dan berlatih. Itu waktu yang sangat panjang dan potensial untuk membuat landasan jiwa kemandirian dan ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan. Sehingga ketika siswa masuk ke perguruan tinggi, mereka tinggal memperdalam lewat bidang masing-masing. Kalau mereka memilih usaha sendiri, mereka telah dibekali dengan mindset yang berkembang, (Dweck,2007) dan ketrampilan hidup yang sesuai dengan eranya.

Jalur entrepreneurship adalah sebuah pilihan yang dianggap potesial untuk dikembangkan. Pertama banyak fakta di sekitar siswa tentang tokoh-tokoh entrepreneur yang telah banyak memberikan kontribusi pada perkembangan ekonomi dan sosial. Ini dapat menjadi dorongan yang luar biasa Hal yang dipelajari siswa akan menjadi sangat kongkrit dan dapat dilihat sehari-hari. Banyak sumber belajar yang dapat dipakai. Pembelajaran menjadi sebuah proses interaksi yang menarik antara realitas yang ditemukan dengan siswa yang belajar.

Entreprenur mempunyai spirit dan jiwa yang terus ingin tetap maju, berkembang, dan mandiri. Mereka telah memberikan banyak kontribusi pada kemajuan ekonomi bangsa dan memberikan lapangan kerja Kalau sekolah dapat membentuk mindset seperti ini dalam generasi muda, diharapkan mereka sedikit demi sedikit akan berpikir untuk mandiri dalam bidang ekonomi juga. Banyak hal lain yang menarik dan dapat dipelajari dari karakter dan skills seorang entrepreneur seperti keberanian mengambil resiko, strategi mengatasi masalah, kemampuan berkomunikasi, cara mengubah ide menjadi sebuah rencana, cara menangkap dan mengeleloa peluang. Karakter dan skills seperti itu sangat penting untuk dipelajari dan diaplikasikan di semua bidang di era sekarang.

Pendidikan entrepreneur sudah banyak diterapkan di banyak negara seperti negara-negara eropa dan Amerika sehingga paling tidak kita tidak berangkat dari nol dalam mengembangkan sistem ini. Sudah ada contoh-contoh yang dapat dijadikan inspirasi pengembangan. Dari sisi metodologi dan kurikulum yang ada, seperti pendekatan belajar inquiry dan problem based, (Barell, 2000) kita dapat mengembangkan sistem penyelenggaraan sekolah dan pembelajaran yang dapat mendukung pendidikan dengan wawasan entrepreneur.

Contoh Kasus

KRAFTY KIDS di Shotton Hall Scholl,Peterlee

Shotton Hall School adalah sekolah menengah di Peterlee, County Durham, Inggris. Sekolah ini mengkhususkan pada pendidikan seni pertunjukan,dengan usia murid antara 11 – 16 tahun. Pada tahun 2000 dimulai program E2E (Education To Employment), dimana siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan wirausaha, komunikasi, kerjasama tim, kepribadian dan keterampilan teknis. Siswa-siswa E2E kemudian mengembangkan program Krafty Kids. Mereka mengunjungi pabrik serta gudang setempat untuk mengumpulkan barang-barang sisa yang biasanya terbuang. Kemudian mereka mengolahnya menjadi kerajinan tangan maupun bahan siap pakai untuk membuat kerajinan tangan dan dijual ke sekolah-sekolah di lingkungan mereka. Program tersebut dijalankan selama satu semester dan kemudian dilanjutkan oleh kelompok siswa berikutnya. Sejak Krafty Kids dijalankan, sebagian lulusan berhasil terserap di dunia kerja maupun diterima di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Di Indonesia, praktek kewirausahaan sosial berbasis sekolah tidaklah baru. Bahkan sekolah-sekolah swasta di Indonesia dijalankan sebagai Perusahaan Berbasis Kewirausahaan Sosial yang bertujuan untuk mengembangkan pendidikan. Implementasi prinsip-prinsip dan semangat kewirausahaan sosial sangat tampak pada berbagai sekolah Islam yang memiliki visi dan misi pendidikan, agama dan sosial. Beberapa Kewirausahaan Sosial berbasis Sekolah Islam yang telah diidentifikasi oleh British Council adalah:

Contoh Kasus Kewirausahaan Sosial Berbasis Sekolah (1)

Pesantren Wirausaha Agrobisnis Abdurrahman bin Auf

Pesantren Wirausaha Agrobisnis Abdurrahman bin Auf (Perwira AbA) terletak di Desa Wonosari, Klaten, Jawa Tengah. Perwira AbA dibentuk oleh Yayasan Amalul Musaki pada tahun 2000 dengan tujuan mendidik wirausahawan muda yang profesional, mandiri dan berakhlak Islami. Sejak pertama kali dibentuk Perwira AbA telah melatih lebih dari 2000 murid, usia 18-25 tahun dari seluruh Indonesia. Perwira AbA memberikan pendidikan gratis terkait kewirausahaan serta keterampilan berternak, bertani, eletronik dan akupuntur. Agar dapat memberikan pendidikan gratis kepada para siswanya, Perwira AbA, di bawah pimpinan Bapak Akbar Mahalli, menjalankan unit usaha berupa peternakan dimana karyawan sekolah bersama dengan para siswa membesarkan hingga ratusan ekor sapi, kambing, dan ribuan ekor ayam. Peternakan tersebut juga menjadi laboratorium bagi siswa-siswa yang ingin belajar bisnis peternakan. Perwira AbA juga berkontribusi terhadap kesejahteraan komunitas desa dengan membentuk Koperasi Perwira AbA yang menerapkan sistem bagi hasil dengan anggota koperasi yang memelihara dan membesarkan ternak milik sekolah. Melalui mitra-mitra seperti Dompet Duafa, Perwira AbA dapat menyalurkan hewan ternak dan menjaga keberlanjutan dari kegiatan sekolah dan koperasi.

Contoh Kasus Kewirausahaan Sosial Berbasis Sekolah (2)

Koperasi Sekolah Bina Amal, Semarang

Dirintis pada tahun 2006, Koperasi Sekolah Bina Amal menjual berbagai jenis kebutuhan sekolah, ATK, makanan ringan dan katering sekolah serta menyediakan layanan simpan-pinjam bagi karyawan sekolah. Koperasi Sekolah Bina Amal turut melibatkan guru dan karyawan sekolah, orang tua murid, industri rumah tangga, maupun komunitas di sekitar sekolah dalam pengelolaan dan pengembangan koperasi. Dengan menitipkan barang dagangan di koperasi sekolah, beberapa anggota komunitas dan orang tua murid dapat memperoleh penghasilan tambahan. Koperasi juga sedang merintis jasa penyediaan Laptop kepada guru untuk menunjang kegiatan belajar mengajar, dengan cara, koperasi membelikan terlebih dahulu kemudian guru mengangsur bulanan dengan bagi hasil yang disepakati. Anggota Koperasi Bina Amal pada tahun 2010 mencapai lebih dari 100 orang dengan omzet hingga 120 juta per tahun. Koperasi Sekolah Bina Amal terletak di salah satu sudut SDIT Bina Amal di Jl. Kyai Saleh No. 8 Semarang, dan turut melibatkan siswa dalam kegiatan praktek jual-belinya. Selain menyediakan jajanan sehat dan bersih, Koperasi Sekolah Bina Amal juga memberikan pengalaman belajar kepada siswa-siswi dengan cara ditugaskan secara bergilir untuk menjaga koperasi pada saat jam istirahat. Berbagai hasil karya seni siswa juga dipajang di Koperasi Sekolah Bina Amal dan dibeli oleh para orang tua siswa yang tertarik.

Contoh Kasus Kewirausahaan Sosial Berbasis Sekolah (3)

Koperasi Sekolah Produk Siswa Mandiri, SMP Muhammadiyah 12 Gresik

Koperasi Sekolah Produk Siswa Mandiri (KSPSM) didirikan oleh para guru dan siswa SMP Muhammadiyah 12 Gresik dengan dukungan penuh dari pihak manajemen sekolah. Koperasi tersebut menjual makanan ringan dan produk-produk seni yang dibuat sendiri oleh para siswa. KSPSM melibatkan semua guru, siswa, dan komunitas kurang mampu yang terletak di sekitar sekolah dalam menjalankan kegiatan usaha. Salah satu tujuan utama dari KSPSM adalah mengembangkan semangat kewirausahaan dan keterampilan praktis kepada siswa dengan melibatkan mereka dalam proyek-proyek kewirausahaan yang dilakukan oleh KSPSM. Siswa-siswa diajak merancang dan memproduksi aneka produk seperti kaos, gantungan kunci, mug, dan lain sebagainya. Produk-produk tersebut kemudian dijual di koperasi. Semangat kewirausahaan juga dikembangkan oleh SMP Muhammadiyah 12 Gresik dalam kurikulum sekolah maupun kegiatan tahunan sekolah berupa bazar yang diadakan oleh para siswa.

KESIMPULAN

 

 

Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam ujud fisik maupun abstrak. Kultur ini juga dapat dilihat sebagai suatu perilaku, nilai-nilai, sikap hidup, dan cara hidup untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan, dan sekaligus cara untuk memandang persoalan dan memecahkannya. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh satu generasi kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang yang didesain untuk memperlancar proses transmisi kultural antar generasi tersebut.

Entrepreneur berasal dari bahasa Perancis yang berarti kontraktor. Asal katanya ialah entreprenant yang berarti giat, mau berusaha, berani, penuh petualangan. Entrepreneurship atau kewirausahaan memiliki pengertian yang luas, kewirausahaan dipandang sebagai fungsi yang mencakup eksploitasi peluang-peluang yang muncul di pasar. Eksploitasi tersebut sebagian besar berhubungan dengan pengarahan dan/atau kombinasi input yang produktif. Seorang wirausahawan selalu diharuskan menghadapi resiko atau peluang yang muncul, serta sering dikaitkan dengan tindakan yang inovatif. Seorang entrepreneur atau wirausaha adalah seorang yang berusaha dengan kegigihan dan keberaniannya sehingga usahanya mengalami pertumbuhan.

Sekolah mempunyai potensi untuk mencetak generasi seperti itu lewat proses pembelajaran. Kalau kita dapat mengembangkan sistem kurikulum sekolah dan pembelajaran yang membuat siswa berkreasi, genereasi muda kita akan mempunyai kesempatan 12 tahun untuk belajar dan berlatih. Itu waktu yang sangat panjang dan potensial untuk membuat landasan jiwa kemandirian dan ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan. Sehingga ketika siswa masuk ke perguruan tinggi, mereka tinggal memperdalam lewat bidang masing-masing. Kalau mereka memilih usaha sendiri, mereka telah dibekali dengan mindset yang berkembang, (Dweck,2007) dan ketrampilan hidup yang sesuai dengan eranya.

Jalur entrepreneurship adalah sebuah pilihan yang dianggap potesial untuk dikembangkan. Pertama banyak fakta di sekitar siswa tentang tokoh-tokoh entrepreneur yang telah banyak memberikan kontribusi pada perkembangan ekonomi dan sosial. Ini dapat menjadi dorongan yang luar biasa Hal yang dipelajari siswa akan menjadi sangat kongkrit dan dapat dilihat sehari-hari. Banyak sumber belajar yang dapat dipakai. Pembelajaran menjadi sebuah proses interaksi yang menarik antara realitas yang ditemukan dengan siswa yang belajar.

Entreprenur mempunyai spirit dan jiwa yang terus ingin tetap maju, berkembang, dan mandiri. Mereka telah memberikan banyak kontribusi pada kemajuan ekonomi bangsa dan memberikan lapangan kerja Kalau sekolah dapat membentuk mindset seperti ini dalam generasi muda, diharapkan mereka sedikit demi sedikit akan berpikir untuk mandiri dalam bidang ekonomi juga. Banyak hal lain yang menarik dan dapat dipelajari dari karakter dan skills seorang entrepreneur seperti keberanian mengambil resiko, strategi mengatasi masalah, kemampuan berkomunikasi, cara mengubah ide menjadi sebuah rencana, cara menangkap dan mengeleloa peluang. Karakter dan skills seperti itu sangat penting untuk dipelajari dan diaplikasikan di semua bidang di era sekarang.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.britishcouncil.org/issn-modul_kewirausahaan_sosial_berbasis_sekolah__2_.pdf

http://rivafauziah.blogdetik.com/2005/06/26/membangun-kultur-sekolah/

http://pakguruonline.pendidikan.net/pradigma_pdd_ms_depan_36.html

http://citraberkatsby.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: